Anis M Faris -siyasi-

siyasi

February 16, 2005

politik (sokearno penggali pancasila)

Selasa, 01 Juni 2004
Betul, Soekarno Penggali Pancasila
Oleh Asvi Warman Adam
SELAMA pemerintahan Orde Baru sengaja direkayasa sejarah lahirnya Pancasila. Hal ini bertalian dengan strategi pengendalian sejarah dengan mengecilkan jasa Soekarno dan melebih-lebihkan peran Soeharto.
Dalam kaitan 1 Juni 1945 saat Soekarno berpidato tentang dasar negara yang dinamai Pancasila dikatakan, M Yamin berpidato sebelum Bung Karno. Supomo telah menguraikan dasar negara. Bahkan, pada buku-buku sejarah yang digunakan di sekolah diajarkan, Pancasila merupakan karya seluruh bangsa Indonesia sejak zaman.
Sejak 1 Juni 1970 Kopkamtib melarang peringatan lahirnya Pancasila. Tanggal 22 Juni 1970, Presiden Soekarno wafat. Sejarawan Perancis, Jacques Leclerc, mengatakan, pada dasarnya Bung Karno "dibunuh dua kali". Berstatus "tahanan rumah" tetapi tak dirawat sehingga kesehatannya memburuk lalu meninggal, dan pemikirannya dilarang didiskusikan.
Kontroversi lahirnya Pancasila dimulai awal Orde Baru (Orba) dengan terbitnya buku Nugroho Notosusanto, Naskah Proklamasi jang otentik dan Rumusan Pancasila jang otentik (Pusat Sejarah ABRI, Departemen Pertahanan-Keamananan, 1971). Nugroho mengatakan, ada empat rumusan Pancasila: disampaikan M Yamin 29 Mei 1945; Soekarno (1 Juni 1945); berdasarkan hasil kerja Tim Sembilan yang dikenal sebagai Piagam Jakarta (22 Juni 1945) dan seperti termaktub dalam UUD 1945 (18 Agustus 1945). Menurut Nugroho, rumusan Pancasila yang autentik adalah rumusan 18 Agustus 1945 karena Pancasila seperti dalam pembukaan UUD 1945 dilahirkan secara sah (berlandaskan Proklamasi) tanggal 18 Agustus 1945.
Pada bagian akhir, Nugroho menandaskan lahirnya Pancasila tidak perlu dikaitkan dengan tokoh secara mutlak. Karena lahirnya sesuatu gagasan sebagai yang abstrak, tidak mudah ditentukan dengan tajam. Yang dapat dipastikan, saat pengesahan formal dan resmi daripada suatu dokumen".
MANUVER sejarah dari Pusat Sejarah ABRI ini ditentang kalangan sejarawan dan pelaku sejarah. AB Kusuma dalam makalah Menelusuri Dokumen Historis Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan, berdasarkan notula yang ditemukan kembali tahun 1989 mengatakan, tidak benar M Yamin yang pertama mengungkap dasar negara Pancasila. Yamin dalam bukunya mengakui Soekarno sebagai penggali Pancasila. Panitia Lima yang diketuai Hatta juga mengakui Soekarno yang pertama berpidato tentang Pancasila.
Ada pula sejarawan Dr Anhar Gonggong masih ragu menyatakan Soekarno sebagai penggali Pancasila. Menurut Anhar, Soekarno amat berperan dalam tiga peristiwa yang terkait proses lahirnya Pancasila, yaitu 1 Juni, 22 Juni, dan 18 Agustus 1945. Pada ketiga kejadian itu Soekarno menduduki posisi penting (1 Juni) sebagai penyampai pidato, (22 Juni) sebagai Ketua Tim Sembilan yang melahirkan Piagam Jakarta, (18 Agustus 1945) sebagai Ketua PPKI yang lalu dipilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dari uraian itu dapat disimpulkan, Soekarno tokoh pertama yang menyampaikan Pancasila sebagai dasar negara. Ada tokoh lain yang berbicara tentang dasar negara, tetapi hanya Soekarno yang secara eksplisit menyampaikan gagasan tentang Pancasila, termasuk nama Pancasila. Formulasi Pancasila yang disampaikan Soekarno 1 Juni 1945 telah melalui dinamika pembicaraan di antara founding fathers dirumuskan menjadi Pancasila seperti dikenal sekarang, yang tidak sama rumusan maupun urutannya dengan yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945.
Peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni seyogianya tidak lagi memasalahkan kontroversi yang diciptakan era Orba, tetapi lebih memusatkan perhatian tentang penerapan ideologi pada semua bidang kehidupan bangsa. Bagaimana cara meyakinkan seluruh komponen bangsa bahwa Pancasila adalah ideologi paling tepat bagi bangsa kita. Pancasila memberi tempat kepada semua agama, golongan, dan suku bangsa. Bila mau memilih ideologi lain, pasti menimbulkan friksi bagi golongan yang tidak setuju.
Dalam memperingati lahirnya Pancasila, sebaiknya kita tidak mengultuskan seseorang. Kita menghargai jasa Soekarno sebagai penggali Pancasila meski rumusan Pancasila yang sekarang digunakan adalah hasil rumusan kolektif bapak-bapak pendiri bangsa. Kita tidak boleh melakukan kultus individu. Sebaliknya tuduhan pada seorang proklamator seperti Bung Karno seharusnya dicabut. Pelecehan terhadap Soekarno tampak dalam TAP MPRS Nomor XXXIII/1967 tentang pengalihan kekuasaan terhadap Soeharto. Kita tidak menggugat pengalihan kekuasaan itu karena telah terjadi. Tetapi konsiderans yang menyebutkan Soekarno melakukan kebijakan yang "menguntungkan G-30-S/PKI dan melindungi tokoh-tokoh G-30-S/PKI" perlu dipertanyakan. Bila diakui G30S/1965 itu merupakan gerakan kudeta untuk menggulingkan Presiden Soekarno, mengapa Soekarno memihak dan melindungi pelakunya? Saat itu Soekarno masih menjadi presiden, tak mungkin ia membantu kelompok yang ingin menggulingkan diri sendiri. Rehabilitasi nama baik Soekarno agar segera diberikan pemerintah. Apakah itu akan dikeluarkan segera oleh Presiden RI yang kebetulan putri biologis Bung Karno? Terserah. Masyarakatlah yang akhirnya menilai semuanya ini.
Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI
http://kompas.com/kompas%2Dcetak/0406/01/opini/1058134.htm