Anis M Faris -siyasi-

siyasi

February 19, 2005

politik (spirit agama untuk pendidikan)

Jumat, 12 September 2003
Karangan Khas
Spirit Agama untuk Pendidikan
Oleh: Hasan Toha Putra
SETELAH pengeboman kota Hirosima dan Nagasaki Jepang pada Perang Dunia II, konon pertanyaan kaisar Jepang bukan berapa jenderal yang masih hidup, melainkan justru berapa guru yang masih hidup. Sebuah pertanyaan yang secara sepintas berkesan paradoks. Betapa tidak, di tengah kekalahan perang, mengapa justru yang ditanyakan berapa guru yang masih hidup, bukan berapa jenderal dan prajurit yang notabene menjadi pilar utama peperangan.
Substansi pertanyaan sang kaisar terbukti ketika saat ini Jepang berada di barisan terdepan dalam penguasaan teknologi. Jepang selalu diperhitungkan, bahkan oleh negara adidaya seperti Amerika. Artinya, dalam kondisi apa pun, pendidikan menjadi aspek utama dalam pembangunan sebuah bangsa. Jepang dapat membuktikan bahwa kejayaan suatu bangsa dimulai dari peningkatan kualitas pendidikan. Karena itu, pada hemat saya, kemajuan sebuah bangsa bisa diukur dari tingkat perhatian terhadap pendidikan sebagai prioritas pembangunan.
Dalam konteks Indonesia kekinian, makin disadari terjadi lunturnya identitas bangsa dan rendahnya integritas moral. Adapun pokok permasalahan sesungguhnya tentang pendidikan di Indonesia selama ini adalah belum terlaksananya proses pendidikan yang baik, yang secara integral mampu meningkatkan seluruh potensi kemanusiaan.
Kalau kita jujur, arah pendidikan yang selama ini dibangun lebih berorientasi pada penguatan aspek kognitif. Selebihnya, kalaupun harus diajarkan, pendidikan nilai dan kultural (pendidikan kewarganegaraan, pendidikan agama, dan lain-lain) sekadar memenuhi kewajiban, sementara substansi materi tidak tampak implikasinya dalam kehidupan.
Karena itu, para praktisi dan pengelola pendidikan harus jujur mengakui, sistem pendidikan yang selama ini dikembangkan turut memberikan andil atas keterpurukan bangsa ini.
Pengelolaan
Pengelolaan pendidikan mensyaratkan pengenalan berbagai elemen dalam sistem pendidikan. Berbagai elemen dalam sistem pendidikan itu perlu dikenali secara mendalam sehingga dapat difungsikan dan dikembangkan. Elemen dalam sistem pendidikan itu paling tidak meliputi tiga hal pokok, yakni masukan sumber, proses pendidikan, dan hasil pendidikan.
Fokus pengelolaan pendidikan hendaknya lebih banyak terarah pada proses pendidikan, sedangkan masukan sumber relatif berkisar pada proses seleksi. Adapun hasil pendidikan, pengelolaannya dapat diwujudkan dalam bentuk networking.
Hasil pendidikan yang berkualitas baik tentu saja berawal dari proses pendidikan yang baik. Sementara itu, proses pendidikan yang baik membutuhkan pengelolaan yang amanah dan profesional.
Pengelolaan yang amanah dan profesional adalah pengelolaan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian target nilai (kognitif) tinggi dengan parameter hasil ujian nasional, sementara pencapaian akhlak dan kepribadian siswa yang didasari nilai-nilai religius hanya sebagai subordinat. Sebaliknya, amanah dan profesional merupakan sikap dan komitmen pengelola pendidikan untuk mengarahkan proses pendidikan yang berorientasi pada penguatan tiga aspek, yakni iman, ilmu, dan amal.
Dengan pencapaian ketiganya diharapkan akan lahir keluaran pendidikan yang berpredikat insan kamil. Pengertian insan kamil secara sederhana dapat dimaknai sebagai manusia yang tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia-akhirat, jasmani-rohani, agama-politik, individu-masyarakat, tetapi memadukan keseluruhan kehidupan manusia; di dunia akan memiliki implikasi pada kehidupan di akhirat kelak. Dengan demikian, kehidupannya merupakan satu kesatuan yang utuh.
Dalam perspektif pendidikan Islam, yang menjadi fokus perhatian adalah pembangunan generasi yang memiliki basis pengetahuan dan keterampilan (iptek) yang dijiwai nilai-nilai qurani. Dengan begitu, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan refleksi dari tugas kemanusiaan sebagai khalifah (QS 2:30) yang semuanya diorientasikan pada pengabdian (ibadah) kepada Allah (QS 51:56).
Upaya membangun pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan seluruh aspek potensi kemanusiaan (yang baik) membutuhkan visi dan misi yang jelas sebagai koridor bagi perencanaan pendidikan ke depan, yang berorientasi pada perwujudan hari depan yang lebih baik (hadis).
Visi dan misi disusun dengan tetap bertumpu pada parameter qurani dalam membentuk generasi khaira ummah (masyarakat utama) yang mengabdikan ('abd allah) seluruh amanat kekhalifahan (khalifatullah), yang teraktualisasi dalam wujud kekaryaan yang bermanfaat bagi kemaslahatan, kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan manusia, tanpa terkecuali alam semesta (rahmatan lil 'alamin).
Faktor lain pendidikan yang menjadi perhatian dalam upaya pengembangannya adalah pengelolaan proses belajar-mengajar yang mengacu pada student center.
Pembelajaran ini membawa konsekuensi pada pengembangan sumber daya insani yang berkualitas, yang mampu menjadi pengelola kelas yang efektif menuju optimalisasi hasil belajar secara keseluruhan.
Watak yang perlu dikembangkan dalam pengembangan sumber daya insani pendidikan adalah bertakwa, berilmu, berkepribadian stabil, mampu bekerja sama, kompetitif, dan beridealisme. Adapun komponen lain pendidikan yang juga penting menjadi pendukung keberhasilan proses pendidikan adalah pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai. Sarana pendidikan yang memadai menjadi poin plus yang unggul ketika secara substantif memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam pencapaian hasil belajar dari seluruh aspek secara optimal.
Dalam kerangka pengembangan pendidikan sebagaimana digambarkan di atas, identitas agama tidak sebatas sebagai simbol untuk melengkapi sebuah nama lembaga pendidikan, tetapi merupakan spirit utama yang akan memompakan stamina bagi para pengelola lembaga pendidikan.
Kekuatan dan Tantangan
Karena agama ditempatkan sebagai spirit utama dalam pengelolaan lembaga pendidikan, konsekuensinya setiap aktivis pendidikan selalu disandarkan pada nilai-nilai agama. Sandaran terhadap nilai-nilai agama ini implikasinya akan menimbulkan kekuatan dan tantangan. Namun berdasarkan pengalaman mengelola Yayasan Pendidikan Islam, pada hemat saya spirit agama dalam pengelolaan pendidikan banyak memberikan kekuatan. Adapun tantangan lebih bersifat tanggung jawab moral untuk tetap mempertahankan nilai-nilai agama di tengah kecenderungan masyarakat yang makin permisif.
Secara umum, paling tidak ada beberapa kekuatan sebagai implikasi dari penggunaan spirit agama dalam pengelolaan pendidikan. Pertama, dalam pengelolaan aspek sumber daya manusia, spirit agama memungkinkan untuk membangkitkan motivasi dan produktivitas karena diikat oleh visi yang sama. Kesamaan visi ini menjadikan semangat kerja tidak sebatas pada orientasi pencapaian target materi berupa gaji semata. Akan tetapi, yang lebih ideal dan bernilai tinggi adalah orientasi vertikal, yakni tercapainya kepuasan spiritual karena mampu menyampaikan pesan-pesan ilahiah melalui kegiatan belajar-mengajar di sekolah.
Kedua, pengelolan kurikulum lebih integratif, karena bermuatan nilai-nilai agama. Ketiga, pengelolaan pembiayaan pendidikan lebih banyak terkontrol. Tidak saja oleh mekanisme formal berupa pelaporan dan audit, tetapi semangat bekerja karena mengemban amanah akan berimplikasi pada sikap "kehati-hatian" untuk pendayagunaan dana, sehingga lebih efektif dan efisien. Sebab, semangat mengemban amanah sesungguhnya dikontrol oleh umat/masyarakat sebagai stakeholder, lebih-lebih oleh Tuhan.
Keempat, secara kelembagaan, mekanisme organisasi berjalan sesuatu dengan rel kebenaran yang bersumber dari niat tulus untuk mengabdikan diri pada pengembangan kualitas masyarakat melalui pendidikan. Mekanisme organisasi yang secara mudah dapat kita cermati adalah misalnya) pada proses pengambilan keputusan. Pada proses pengambilan keputusan, kecenderungan mengedepankan egoisme setidaknya akan terkontrol oleh semangat kebersamaan. Tidak pada tempatnya jika pada proses ini muatan-muatan politis mengintervensi jalannya mekanisme.
Sebagai catatan akhir, ada beberapa hal yang bersifat prinsip yang perlu saya cantumkan dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Pertama, prinsip transparansi. Asumsi yang mendasari adalah pada dasarnya pengelolaan pendidikan merupakan amanat umat yang untuk dilaksanakan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab di hadapan Allah dan pemberi amanat (umat). Kedua, siap berubah (open to change). Asumsi yang mendasari, laju perkembangan pendidikan sedemikian cepat untuk diadaptasi. Bila menutup diri untuk mengikuti perkembangan ini, akan makin jauh tertinggal dalam pengembangan dan pengelolaan pendidikan.
Ketiga, berorientasi ke depan. Sebagai konsekuensi dari prinsip ini, pengelolaan pendidikan senantiasa diorientasikan pada pencapaian keadaan yang lebih baik. Keempat, pengelolaan lembaga pendidikan harus melibatkan seluruh komponen dalam pengambilan keputusan. (18c)
-H Hasan Toha Putra MBA, Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung
http://www.suaramerdeka.com/harian/0309/12/kha2.htm